Langsung ke konten utama

Unforgettable Moments

Coba buat catatah ah.. Udah lama ne kekny gak mengabadikan kata-kata. Sebenarnya sih gak niat nulis tapi ini terinspirasi dari kejadian aku di hari minggu (9/6/2013). Kejadian yang buat aku ingin ketawa sendiri, padahal ini hal yang memalukan juga sih sekaligus kesialan buat aku. Tapi entah mengapa aku menanggapinya secara humor. Hahahaha..
Berikut cuplikannya:

Deras suara alarm membangunkanku, membuatku melakukan aktivitas seperti biasanya hingga si perutpun meminta jatah pagi harinya (sarapan). Aku pun mengajak teman sekamar kos ku untuk membeli sarapan bersama. Kami meminjam sepeda motor teman kos yang namanya sebut saja Sophie (ngarang ne). Si Sophie juga menitip untuk membelikan sarapannya dengan memberi uang goceng padaku sesuai badget dari pesanannya. Aku pun membawa uang yang sama pula. Jadi total 10 rb d kantong. Lalu berangkatlah aku dengan teman sekamarku yang juga membawa kereta si Sophie. Sampai ditujuan kami memesan sarapan 3 bungkus. Sambil si mbak penjual membungkus apa yang kami pesan, kami pun sembari duduk dan bercerita panjang lebar tentang hal yang lucu sambil tertawa-tertawa kecil. Maklumlah aku dan temanku ini sama-sama humoris. Kesialan menimpa pun masih saja bias tertawa. Hahahaha
“ Ko bawa duit kan La? Tanyaku pada Lala.“ Egak” jawabnya.
“Waduuhh aku bawa uang pas.
“Seriusla ko” tanyanya padaku.
“Gawat lah kita” ujarku padanya.
Yoda, bentar aku balik lagi.
Menunggu si Lala pergi mengambil uang, si mbak bilang “13 rb dek”. “Tunggu ya mbak, uangnya kurang. Lupa tadi. “ Ucapku.
“Besok-besok kan bisa di bayar dek” kata si mbak.
Gak enak la ngutang dalam hatiku (padahal udah biasa kan woi)
Tibalah Lala dengan si matic hitam. Aku pun langsung membayar tunai sarapan itu. Sah? Sah? :D
“ Buat malu aja pun ko Ron” ucap temanku dengan sapaan sayangnya. Ueekkk ….

Hahaha,, itulah sepenggal kisah si sarapan pagi. Kalau kurang lucu silahkan tambah sendiri… hehehe

Ini cerita kedua. Cerita di malam hari.
Aku pulang ke kos sekitar pukul 5 sore. Eh, si Lala gadak d kos. Si Sophie juga. Ini orang balas dendam keknya. Tadi aku yang pergi, ini malah mereka yang pergi. Huh..
Kulihat pakaian yang dijemuran telah terletak di atas kursi teras kamar. (takdir memutuskan kamar aku dan lala di lantai 2). Singkat cerita pakaianku kulipat sendiri, sementara pakaian si Lala kubiarkan saja ( malas sih enak-enakin dia kalo aku yang lipat, bcanda Lala). Malam pun hadir. Ba’da maghrib aku menelpon keluargaku. Tak lama ku tutup salam dan mematikan hape. Eh, si hape laper lagi, yauda ku kasi makan alias di charge.

Sayup terdengar suara angin. Ku buka pintu teras,, wuihhhh anginnya kencang ABISSS. Ku tutup pintu kembali karena kaget. Otakku berfikir reflex sepertinya mau hujan ne. Masukkan pakaian si Lala lah pikirku entar kena tempias hujan bisa jadi lembab ne. Ku buka pintu kembali, tanganku pun langsung memegang seabrek pakaian. Seketika si pintu tertutup rapat karena tertiup angin. Waduhhh,, tewas pikirku. Tau kenapa? Karena si pintu Cuma bisa dibuka dari dalam aja, gak bias dari luar. Karena engselnya copot sebelah. Hahaha..
Tamat lah riwayatku terkunci d luar (jarang-jarang ne terkunci di luar biasanya juga kebanyakan orang terkunci di dalam). Hadehhh..

Suddently jutaan tetes air jatuh dengan indahnya dihadapan mataku beserta tiupan angin yang menggoncang si air dan pepohonan di sekitarnya. Ya Allah begitu indah ciptaanMu. Ujarku dalam hati. Mudah-mudahan Allah menolongku dalam keadaan ini.
Sebagai manusia yang punya semangat usaha, aku pun memanggil orang di rumah dengan kencang. Tapi tak satupun mendengar.

Ku cari pertolongan dari sisi lain, yaitu tetangga sebelah dan sekitarnya. Ehhh,,, alih-alih tidak ada orang. (ya iyalah mana ada orang yang keluar hujan deras begini disertai angin super pulak tuh).
Akupun terkulai lemas d atas kursi teras (agak di dramatisir dikit la ya), sembari menikmati rahmat yang Allah turunkan kepada ciptaannya. Agak-agak takut juga sih. Ada petir pulak tuh tiba-tiba bersuara. Jadi takut beneran nih. Kemudian terdengar suara pesawat terbang. Sepertinya pesawat itu rendah sekali coz suaranya cuyyy dekat banget,….
Terbawa arus film “final destination” yiahhhh kalian tahu lah pikiran aku saat itu seperti apa. ( mulai lebay ne si otak). Mulutpun komat-kamit (bukan baca mantra yee, baca doa tau).

Hujan tak juga reda, tapi aku tak putus asa mencari secercah pertolongan dari makhluk Allah. Ku lihat tetangga belakang rumah (ibuk-ibuk) sedang membuka pintu. Aku memanggil sekuat tenaga. “ Buk, tolongin saya donk, pintu kamar terkunci gak bisa dibuka dari luar” pintaku.
“ ya bentar”. Si ibuk juga lagi ada masalah dengan pintu rumahnya. Aku pun bersabar untuk menunggu. Sampai akhirnya ada saudara ibu kos yang kami sapa kakek lewat gang menggunakan payung. Sepertinya si kakek mau ke warung depan. Aku pun memanggil dan menjelaskan apa yang terjadi dan meminta tolong pada si kakek. Beliau pun memanggil orang yang ada di bawah untuk membuka pintu atas. Tak lama tibalah Kakak Syiti dihadapan wajahku. “ “Ya ampunn kakak isyma, kenapa bias tertutup? Udah berapa lama di sini? Tanyanya agak sedikit nyengir.
Hahhh,, akhirnya aku terbebas dan menceritakan kronologi kejadian ini pada kakak syiti, ibu kos dan yang ketika itu mewawancaraiku. Mereka tak menyangka apalagi aku..

Egak tahu ini lucu, ngenesin atao apalah. But I can say “ This is an unforgettable moment”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK RUMAHAN

Siapa yang pernah disebut anak rumahan? Senang gak sih dipanggil anak rumahan? Aku sih pernah. Tapi gak ada perasaan apa-apa tuh. Gak senang dan gak sedih juga. Mungkin julukan itu cocok disandang oleh ku yang memang lebih suka menghabiskan akhir pekan di rumah aja. Coz I think, There’s no place like home. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan “Phrase” itu. I don’t know. Tapi yang pasti aku setuju karena memang gak ada tempat selayaknya rumah kita sendiri. Suka menghabiskan all day long at home in weekend, bukan berarti putri bungsu ini tidak suka berdestinasi ya. aku juga suka jalan-jalan tapi di waktu yang tepat. Baik itu yang memang sudah direncanakan jauh sebelum liburan maupun yang dadakan. Kalau cuma libur pada satu tanggal yang merah yaitu Minggu, aku memilih rumah sebagai tempat “mengeksplore” kemampuan diriku. Gaya kali si isma ini bilang aja tidur seharian. Hahaha. Setelah 6 hari penuh dengan runtinitas harian yang bukan padat jadwal tapi emang sengaja dip...