Awalnya nama itu mampir di
telingaku. Sebut saja namanya Joko ( nama samaran) dan wajahnya juga samar,
karena ku belum pernah melihat wajahnya.
“Si Joko teman sekelas aku waktu
SMA gak dikasi masuk sama salah satu dosennya, karena kesalahan yang tidak
begitu serius.” Ungkap teman satu jurusan aku di bangku kuliah. “Apa Lel?”
tanyaku pada Lela teman sekelasku itu. Lela pun mengulangi pembicaraannya. Aku
bukan tak mendengar apa yang dikatakan Lela, tapi aku ingin mendengar sekali
lagi nama yang ia bicarakan itu. Ya, “Joko”. Nama itu. Aku sangat geli
mendengar nama Joko. Aku teringat nama seorang penjahat yang kasusnya pernah
masuk TV. Otakku berpikir, kok ada ya nama aneh itu di kampus ini.
Esoknya, si Lela juga bercerita
tentang si Joko itu. Lela lumayan sering membicarakannya. Dan akhirnya aku jadi
penasaran sama yang namanya Joko. Aku ingin melihat wajahnya. Tapi aku tak
meminta Lela untuk mempertemukan aku dengan si Joko itu. Sampai suatu hari, saat aku bersama Lela.
“Tunggu sini dulu ya” kata Lela padaku. “Mau kemana Lel?” Tanyaku. “Jumpain si
Joko di depan, ada yang mau aku ambil darinya”. balas Lela. Lela pun keluar dan
meninggalkan aku sendiri di dalam kelas. Bosan rasanya sendiri di kelas yang
hanya ditemani dengan kursi-kursi kosong, aku pun memutuskan untuk menjumpai
Lela sekaligus melihat seperti apa wajah si Joko itu.
“Lel, lama amat? Ku bosan tau di
kelas sendirian”, ujarku pada Lela. Iya, ini aku lagi minjam buku ma Joko. Sahut Lela. Oh, ini yang namanya
Joko gumamku dalam hati. Ganteng juga pikirku. Gayanya keren walau tak sesuai
dengan namanya. Wajahnya juga mengingatkan ku pada seseorang yang pernah aku
cintai. Aku berharap Lela mau mengenalkanku dengan temannya itu. Eh, ternyata
tidak. Aku pun tidak terlalu berharap. Sudahlah…
Semenjak awal pertemuanku dengan
Joko, wajahnya selalu terbayang di pikiranku. Apa karena dia mengingatkanku
pada seseorang atau memang karena aku tertarik dengannya? Entahlah, aku sendiri
saja tak tahu.
Hampir setiap hari Lela selalu
membicarakan Joko. Si Joko pintar lah, tajir lah, keren lah, pokoknya serba
pujian yang keluar dari mulut Lela. Apa mungkin Lela menyukainya? Tapi Lela
bilang Joko adalah teman baiknya dari SMA.
Hmmmm,, rasa penasaranku terhadap
Joko makin bertambah. Sampai aku mencari tahu tentangnya lewat jejaring sosial
(fesbuk). Aku menemukan fesbuk Joko dari nama teman-teman fesbuknya Lela. Aku
tambahkan Joko sebagai teman fb ku sambil berharap ia akan menerimaku sebagai
temannnya dengan cepat. Setiap hari ku buka fb untuk mengetahui apakah yang
kuinginkan terwujud. Ternyata tidak. Hampir sebulan ku menunggu namun tak jua
ada. Aku tak mengerti mengapa Joko tidak menerima pertemananku. Sampai akhirnya
aku meminta kepada salah satu teman dekatku Yusra untuk menambahkan Joko
sebagai temannya. Hanya berselang satu hari, Joko pun menerima permintaan teman
Yusra. Lalu apa salahku??? Sombong banget ne si Joko. Sok kegantengan. Dasar
pria songong!!! Keluhku KESAL.
# Bersambung….
Komentar
Posting Komentar